Tradisi kuno ini mencerminkan nilai gotong royong yang kuat di Papua, khususnya Tradisi Masyarakat Suku Phuyaka Sentani, yang mayoritas tinggal di sekitar Danau Sentani kabupaten Jayapura Papua, memiliki budaya yang kaya untuk menopang kerja-keeja bersama ( komunal ).
Salah satu manifestasinya adalah kegiatan menarik perahu baru dari hutan ke kampung, yang dilakukan secara bersama-sama.
Ini bukan hanya aktivitas fisik, tapi ritual yang melibatkan banyak orang untuk membawa perahu yang baru, di buat dengan bahan dasar kayu ( pohon )
Seperti di Kampung Dondai, Distrik Waibu (Kabupaten Jayapura), tradisi ini masih sangat kental, terutama dengan penggunaan nyanyian kuno atau “nyayian komando” sebagai pemberi aba-aba dan sumber kekuatan spiritual.
Tradisi ini biasanya dilakukan saat proses pengantaran perahu baru dari hutan ke kampung, yang melewati medan hutan yang curam, dataran, atau ketinggian gunung sehingga memerlukan koordinasi
Peran Nyanyian Kuno dalam Proses ini berfungsi sebagai Pemberi aba-aba (komando Dipimpin oleh satu orang khusus), diikuti respons serentak dari kelompok.
Nyanyian ini juga menghadirkan kekuatan extra dan hanya bisa dinyanyikan saat situasi sulit, seperti mendaki gunung, melewati tanah kosong tanpa alas kayu, atau ketika penarik mulai lelah. Liriknya memberikan dorongan fisik dan mental, menyatukan energi kelompok untuk penyatuan tenaga.
Contoh lirik Lagu :
Penyanyi khusus: “Tambu me tambuuuuuu…. Iwaaaaa-Iwaaaaaa, Oooo eeeee eeee e Aye Massah,”
Respons kelompok: “Ooooo ooooooo ooooo”
Nyanyian ini bersifat balas-membalas, disertai gerakan menarik perahu ke depan secara serentak. Saat perahu bergerak kedepan, di bagian belakang ada tim khusus yang mengemudikan arah perahu, memastikan pergerakan mengikuti tujuan akhir (ke kampung atau air danau).
Makna Religi dan Spiritual Menurut penjelasan orang tua setempat, nyanyian ini bukan sekedar hiburan atau motivasi biasa, melainkan komunikasi supranatural dengan alam.
Liriknya mengandung elemen religi, di mana penyanyi seakan akan “berkomumikasih” memohon bantuan roh penjaga tempat
Tujuannya Meminta dukungan supranatural agar beban perahu yang berat menjadi ringan. Atau bisa juga di sebut Mengundang partisipasi alam, sehingga perahu bisa bergerak maju meski kondisi Medan sangat ekstrem.
Ini mencerminkan bahwa pandangan komunitas phuyaka atau masyarakat Sentani sejak dahulu antara manusia, alam, dan roh saling berpartisipasi
Tradisi serupa ditemukan di suku-suku Papua lain, seperti Asmat atau Dani, di mana lagu adat sering kali bersifat sakral untuk mengatasi tantangan fisik.
Signifikasi Budaya dan PelestarianTradisi ini memperkuat ikatan sosial, di mana setiap anggota dari pemuda hingga orang tua berkontribusi.
Di era modern, tantangan seperti urbanisasi dan pengaruh luar mengancam kelestariannya, tapi komunitas seperti di Dondai masih mempertahankannya sebagai aset budaya yang hidup dalam aktifitas kerja-kerja gotong royong mereka. (ok)


