Komitmen Pemuda Adat Nendali Bangun Kampung dengan Semangat Kekeluargaan
Perkumpulan Pemuda Adat Kampung Nendali, yang dikenal dengan istila lokal Bahasa Sentani “Yo Va Riya’a Nendali” (singkatan dari “Yo: Kampung “Va “Anak Muda/Generasi/ “Riya’a”: Musyawarah/duduk bersama. kegiatan musyawarah perdana ini dilakukan pada Selasa 18/11/2025 di kampung nendali
Acara ini menjadi tonggak penting bagi pemuda Nendali Sentani Timur Kabupaten Jayapura untuk bersatu dan merumuskan langkah-langkah strategis dalam pembangunan kampung berdasarkan asas kekerabatan dan kekeluargaan yang telah mengakar.
Yo Va Riyaa Nendali adalah wadah bagi seluruh anak Kampung Nendali dari berbagai suku bangsa yang hidup berdampingan. Perkumpulan ini didirikan dengan tujuan mulia, antara lain Membangun pemahaman yang seragam tentang Kampung Nendali, Merumuskan tujuan bersama untuk kemajuan kampung, Menjadi mitra strategis bagi Otoritas Adat Nendali, Pemerintah Kampung Nendali, serta Lembaga Agama setempat dalam upaya pembangunan berkelanjutan. Merancang dan menyampaikan rekomendasi konstruktif untuk kehidupan yang lebih baik kepada berbagai pihak terkait, Menjadi forum untuk menyampaikan ide dan gagasan guna menjaga ketahanan Kampung Nendali.
Musyawarah yang mengusung tema “Nendali, Kemarin, Sekarang, dan Masa Depan” ini diawali dengan acara pembukaan, dilanjutkan Paripurna 1 yang membahas materi orientasi dan pembentukan komisi. Pleno komisi kemudian dilaksanakan untuk membahas materi secara mendalam. Komisi-komisi yang dibentuk meliputi:
1. Komisi Sejarah Kampung Nendali : Mengkaji sejarah dan perjuangan perkumpulan pemuda di masa lalu.
2. Komisi Tujuan Yo Va Riyaa Kampung Nendali: Merumuskan tujuan spesifik perkumpulan.
3. Komisi Mitra Bersama Otoritas Adat Kampung Nendali: Merancang rencana aksi kegiatan bersama.
4. Komisi Mitra Bersama Pemerintah Kampung Nendali: Merancang rencana aksi kegiatan bersama.
5. Komisi Mitra Bersama Lembaga Agama Kampung Nendali: Merancang rencana aksi kegiatan bersama.
6. Komisi Rekomendasi: Menyusun rekomendasi kepada Otoritas Adat, Pemerintah Kampung, Lembaga Agama, serta lembaga masyarakat dan pemerintah pada umumnya.
Materi orientasi musyawarah diisi oleh para narasumber terkemuka, termasuk Pdt. Johan Wally yang memaparkan “Sejarah Kampung Nendali”, Ondofolo Kampung Nendali yang menjelaskan “Kebijakan Otoritas Adat tentang Pembangunan Kampung Nendali”, Ketua AMAN Jayapura yang membahas peran “AMAN dalam Membangun dan Melindungi Masyarakat Adat”, Kepala Kampung Nendali tentang “Rencana Strategis Membangun Kampung Nendali”, serta perwakilan “Lembaga Agama” mengenai kiprahnya dalam pembangunan.
Musyawarah ini diakhiri dengan Paripurna 2, di mana hasil pembahasan komisi dibacakan dan dilanjutkan dengan pembentukan panitia perumus yang sekaligus akan menjadi pengurus Yo Va Riyaa Nendali. Materi hasil pembahasan komisi akan diserahkan kepada Panitia Perumus untuk kemudian diwujudkan menjadi Pernyataan Aksi Kegiatan Bersama Yo Va Riyaa Nendali, serta rekomendasi kepada berbagai pihak terkait.
Hasil Musyawarah Yo Va Riyaa Nendali yang pertama ini akan secara resmi dibacakan dan diserahkan pada Ibadah Syukuran Yo Va Riyaa Nendali Selanjutnya, penyusunan AD/ART, dan kalender kerja.
Pada intinya Musyawarah ini menegaskan komitmen Pemuda Adat Nendali untuk aktif berkontribusi dalam pembangunan kampung, menjaga nilai-nilai adat, serta menjalin sinergi dengan seluruh elemen masyarakat demi kampung Nendali yang lebih maju dan sejahtera di masa depan.
Ondoafolo Kampung Netar Bapak Yan Piet Wally saat di wawancarai mengatakan bahwa, kegiatan ini sangat penting karena sudah lama tidak ada inisiatif serupa, bahkan sejak ayahnya memimpin dulu.
Ia menyatakan kegembiraannya karena musyawarah ini dianggap sebagai langkah maju untuk masa depan kampung mereka.
Ondofolo Nendali menyoroti banyaknya masalah di kampung mereka, terutama terkait tanah adat, yang sangat fundamental bagi kehidupan adat. Ia menekankan bahwa penyelesaian masalah-masalah ini hanya bisa tercapai melalui persatuan, khususnya dari kaum muda. Musyawarah ini dipandang sebagai wadah yang tepat bagi pemuda untuk duduk bersama dan mencari solusi, sesuai dengan tema “Hari ini, besok kita harus duduk bicara terus itu.” Ia percaya bahwa dengan kebersamaan, masalah dapat diselesaikan, dan situasi yang rentan dimanfaatkan pihak lain dapat dihindari. Intinya, semua persoalan muncul karena hak hidup masyarakat adat yang mulai terhimpit oleh kemajuan, dan solusi harus dihadapi bersama, bukan sendiri-sendiri.
Kegiatan Musyawarah Perkumpulan Pemuda Adat ini sejalan dengan upaya pelestarian nilai-nilai budaya dan pemberdayaan masyarakat adat, terutama generasi muda, yang diharapkan dapat menjadi pewaris dan penjaga tanah serta tradisi
Seperti tujuan Pembentukan kampung adat di Kabupaten Jayapura yang di dukung oleh Peraturan Daerah Kabupaten Jayapura Nomor 8 Tahun 2016 tentang Kampung Adat, ini semua merupakan upaya-upaya untuk tetap menjaga eksistensi masyarakat hukum adat yang di dalamnya posisi otoritas diatur sedemikian rupa secara internal dan mandiri.

Di tempat yang sama, Juru bicara Omdofolo Netar, Eric Wally menambahkan juga bahwa beberapa poin penting yang ditekankan mengenai peran pemuda di Kampung Nendali dan masa depan kampung tersebut antara lain “Pentingnya Peran Pemuda dalam kampung” : Juru bicara ondofolo menyoroti bahwa jumlah pemuda di Kampung Nendali sudah memenuhi ekspektasi untuk pengembangan kampung.
Ia menggarisbawahi bahwa jika pemuda tidak mengambil kesempatan untuk maju, mereka akan tertindas. Ini menjadi catatan penting bagi pemuda agar tidak hanya berpikir jangka pendek (5-6 tahun) tetapi jauh ke depan (20 tahun).
Yang berikut ” Tanggung Jawab Pemuda sebagai Pewaris Kampung”: Para pemuda disebut sebagai pewaris kampung, dan masa depan kampung berada di pundak mereka. Mereka didorong untuk turut berkontribusi dalam memutuskan arah yang akan diambil oleh kampung, karena semangat untuk perubahan sudah ada, namun perlu ada inisiatif untuk mulai bergerak.
Yang berikut “Dukungan Adat dan Orang Tua”: Lingkungan adat dan para orang tua telah sepakat untuk menjadi pendorong bagi pemuda. Mereka berkomitmen untuk memberikan ruang bagi pemuda untuk berkreasi dan mengapresiasi kegiatan yang mereka inginkan, tanpa intervensi yang dapat menghambat kreativitas atau tidak sejalan dengan cara berpikir pemuda.
” Fokus pada Implementasi Program”: Eric Wally menyatakan bahwa program-program yang ditawarkan adalah program yang dibutuhkan. Namun, tantangan utamanya adalah bagaimana memulai pergerakan dan merumuskan langkah-langkah konkret hari ini. Ini diharapkan menjadi landasan bagi pemuda untuk melangkah maju.
Pernyataan ini mencerminkan dorongan kuat untuk pemberdayaan pemuda di Kampung Nendali, dengan penekanan pada visi jangka panjang, inisiatif mandiri, dan dukungan dari struktur adat.
Kepala Kampung Netar Wemfrid Wally saat di wawancarai di tempat kegiatan Musyawarah Pemuda Adat Kampung Nendali menekankan pentingnya hasil musyawarah ini sebagai dasar perencanaan pembangunan jangka panjang. Beliau menyatakan bahwa dari perspektif pemerintah kampung, masukan dari pemuda adat sangat berharga untuk mengintegrasikan ide-ide segar ke dalam program pembangunan. Khususnya, hasil musyawarah ini akan menjadi rekomendasi utama untuk menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kampung (RPJMK) selama 8 tahun ke depan, menggantikan RPJMK sebelumnya yang telah berakhir. Selain itu, masukan tersebut juga akan dimasukkan ke dalam Rencana Kerja Pemerintah Kampung (RKPK) tahunan, sehingga membentuk rumusan komprehensif untuk pengembangan kampung. Dengan demikian, usulan dari pemuda adat ini dianggap sebagai sumber inspirasi yang melimpah, tidak hanya untuk perencanaan 8 tahun, tetapi juga visi jangka panjang hingga 20 tahun ke depan, sejalan dengan tema pertemuan hari itu.
Salah satu peserta perempuan Katrina Welmina wally juga memberikan komentarnya bahwa Kami mendukung gerakan-gerakan yang ada di kampung Nendali ini. Kami perempuan selalu mendorong agar kampung ini maju, kami berharap pemuda kampung yang harus bicara masa depan kampung dan juga masa depan mereka sendiri (ok)


