Sentani Timur, Jayapura –Tokoh agama Pdt. Yohan Wally, M.Mis menyoroti degradasi peran pemuda dalam tatanan adat di komunitas masyarakat adat, saat diwawancarai pada acara Musyawarah Pemuda Adat Kampung Nendali Netar 18/11/2025 yang bertemakan ” Nendali Kemarin, Hari ini, Esok dan yang akan datang .
Ia Menjelaskan bahwa, akhir-akhir ini kampung dan komunitas adat menghadapi tantangan serius, di mana nilai-nilai keaslian, manusia dan karakteristiknya mulai pudar akibat faktor seperti pendidikan, pekerjaan, dan kurangnya transmisi pengetahuan jati diri dari orang tua ke generasi muda.
Rasa cinta kepada kampung lama-kelamaan pudar, apalagi pengetahuan tentang jati diri kampung tidak pernah diturunkan dengan baik karena orang tua tdak mentransferkan nilai-nilai keaslian,” ujar Pdt. Wally saat diundang hadir dalam musyawarah Yo Va Riaa sebagai Narasumber, ia menekankan bahwa modernisasi sering membuat potensi pemuda tercerai-berai.

Pdt. Wally menilai Kegiatan musyawarah yang di laksanakan di kampung Netar ini sebagai bentuk konsolidasi penting bagi pemuda-pemudi kampung, khususnya dalam konteks “Yofafa” ( Istila lokal Bahasa Sentani ) yang bertujuan merevitalisasi identitas budaya.
Ia mengajak peserta untuk menata ulang jati diri, mengingatkan bahwa masyarakat adat dilahirkan dengan kultur yang beradab dan tertib. “Mari kita memikirkan dan menata ulang untuk tujuan kebangkitan jati diri kita,” katanya, sambil menekankan rekonsiliasi sebagai langkah kunci untuk menyelesaikan luka-luka masa lalu dalam hubungan sosial yang selama ini terabaikan. Dialog terbuka di musyawarah, menurutnya, memungkinkan pemulihan sebagai intervensi Tuhan, membangun komitmen bersama untuk belajar dari kesalahan masa lalu dan merancang masa depan yang diimpikan.
Lebih lanjut, Pdt. Wally berbagi pengalaman pribadinya tentang luka masa lalu untuk membangun empati. “Bukan saja kalian, saya juga punya luka ini. Mari kita mulai obati, pulihkan, dan bangkit ke masa depan,”
Ia juga menegaskan bahwa pembangunan kampung harus dilakukan secara mandiri. Pemuda adat ( Yo Fafa ) harus jadi garda terdepan
Pdt Wally menambahkan fakta yang ada saat ini, anak-anak Papua lebih vokal dan dominan membangun kampung orang lain dari pada kampung sendiri, yang membuat kondisi kampung terlihat menyedihkan. “Tidak ada orang yang datang membangun kampung sendiri kecuali anak kampung sendiri. Ini momen penting untuk merefleksikan dan saling melengkapi serta membangun,” pungkasnya, mendorong persatuan potensi pemuda sebagai kekuatan untuk perubahan kampung ke depan.
Acara ini dianggap krusial oleh Pdt. Wally, ia mendukung penuh gerakan rekonsiliasi yang berkelanjutan. Karena Isu degradasi nilai-nilai keaslian adat ini jadi perhatian serius di Papua secara umum. (ok)


