Perempuan Tablasupa-Amay Konsolidasi, Perkuat Peran Sebagai Organisasi Sayap AMAN

Tablasupa, 9 Desember 2025 – Perempuan Adat Nusantara di Tanah Papua semakin memperkuat komitmen mereka melalui Perempuan Aman Persekutan Perempuan Adat Nusantara Pengurus Harian Komunitas Tablasupa-Amay (PHKOM-AMAY) Komunitas Suku Tepera Distrik Depapre Kabupaten Jayapura Lanjutkan membaca “Perempuan Tablasupa-Amay Konsolidasi, Perkuat Peran Sebagai Organisasi Sayap AMAN”

Pdt.Yohan Wally: Konsolidasi Pemuda Kampung harus Ada untuk Atasi dampak Modernisasi

Sentani Timur, Jayapura –Tokoh agama Pdt. Yohan Wally, M.Mis menyoroti degradasi peran pemuda dalam tatanan adat di komunitas masyarakat adat, saat diwawancarai pada acara Musyawarah Pemuda Adat Kampung Nendali Netar 18/11/2025 yang bertemakan ” Nendali Kemarin, Hari ini, Esok dan yang akan datang .

Ia Menjelaskan bahwa, akhir-akhir ini kampung dan komunitas adat menghadapi tantangan serius, di mana nilai-nilai keaslian, manusia dan karakteristiknya mulai pudar akibat faktor seperti pendidikan, pekerjaan, dan kurangnya transmisi pengetahuan jati diri dari orang tua ke generasi muda.

Rasa cinta kepada kampung lama-kelamaan pudar, apalagi pengetahuan tentang jati diri kampung tidak pernah diturunkan dengan baik karena orang tua tdak mentransferkan nilai-nilai keaslian,” ujar Pdt. Wally saat diundang hadir dalam musyawarah Yo Va Riaa sebagai Narasumber, ia menekankan bahwa modernisasi sering membuat potensi pemuda tercerai-berai. Lanjutkan membaca “Pdt.Yohan Wally: Konsolidasi Pemuda Kampung harus Ada untuk Atasi dampak Modernisasi”

Perkumpulan Pemuda Adat Nendali Gelar Musyawarah Perdana: Yo Va Riya’a

Komitmen Pemuda Adat Nendali Bangun Kampung dengan Semangat Kekeluargaan

Perkumpulan Pemuda Adat Kampung Nendali, yang dikenal dengan istila lokal Bahasa Sentani “Yo Va Riya’a Nendali” (singkatan dari “Yo: Kampung “Va “Anak Muda/Generasi/ “Riya’a”: Musyawarah/duduk bersama. kegiatan musyawarah perdana ini dilakukan pada Selasa 18/11/2025 di kampung nendali

Acara ini menjadi tonggak penting bagi pemuda Nendali Sentani Timur Kabupaten Jayapura untuk bersatu dan merumuskan langkah-langkah strategis dalam pembangunan kampung berdasarkan asas kekerabatan dan kekeluargaan yang telah mengakar.

Yo Va Riyaa Nendali adalah wadah bagi seluruh anak Kampung Nendali dari berbagai suku bangsa yang hidup berdampingan. Perkumpulan ini didirikan dengan tujuan mulia, antara lain Membangun pemahaman yang seragam tentang Kampung Nendali, Merumuskan tujuan bersama untuk kemajuan kampung, Menjadi mitra strategis bagi Otoritas Adat Nendali, Pemerintah Kampung Nendali, serta Lembaga Agama setempat dalam upaya pembangunan berkelanjutan. Merancang dan menyampaikan rekomendasi konstruktif untuk kehidupan yang lebih baik kepada berbagai pihak terkait, Menjadi forum untuk menyampaikan ide dan gagasan guna menjaga ketahanan Kampung Nendali. Lanjutkan membaca “Perkumpulan Pemuda Adat Nendali Gelar Musyawarah Perdana: Yo Va Riya’a”

Nyanyian Kuno Suku Phuyaka/Sentani Pemberi Kekuatan pada Saat Tarik Perahu 

Tradisi kuno ini mencerminkan nilai gotong royong yang kuat di Papua, khususnya  Tradisi Masyarakat Suku Phuyaka Sentani, yang mayoritas tinggal di sekitar Danau Sentani kabupaten Jayapura  Papua, memiliki budaya yang kaya untuk menopang kerja-keeja bersama ( komunal ).

Salah satu manifestasinya adalah kegiatan menarik perahu baru dari hutan ke kampung, yang dilakukan secara bersama-sama.

Ini bukan hanya aktivitas fisik, tapi ritual yang melibatkan banyak orang untuk membawa perahu yang baru, di buat dengan bahan dasar  kayu ( pohon )

Seperti di Kampung Dondai, Distrik Waibu (Kabupaten Jayapura), tradisi ini masih sangat kental,  terutama dengan penggunaan nyanyian kuno atau “nyayian komando” sebagai pemberi aba-aba dan sumber kekuatan spiritual.

Tradisi ini biasanya dilakukan saat proses pengantaran perahu baru dari hutan ke kampung, yang melewati medan hutan yang curam, dataran, atau ketinggian gunung sehingga memerlukan  koordinasi

Peran Nyanyian Kuno dalam Proses ini berfungsi sebagai Pemberi aba-aba (komando Dipimpin oleh satu orang khusus), diikuti respons serentak dari kelompok.

Nyanyian ini juga menghadirkan kekuatan extra dan hanya bisa dinyanyikan saat situasi sulit, seperti mendaki gunung, melewati tanah kosong tanpa alas kayu, atau ketika penarik mulai lelah. Liriknya memberikan dorongan fisik dan mental, menyatukan energi kelompok untuk penyatuan tenaga.

Contoh lirik Lagu :

Penyanyi khusus: “Tambu me tambuuuuuu…. Iwaaaaa-Iwaaaaaa, Oooo eeeee eeee e Aye Massah,”

Respons kelompok: “Ooooo ooooooo ooooo”

Nyanyian ini bersifat balas-membalas, disertai gerakan menarik perahu ke depan secara serentak. Saat perahu bergerak kedepan, di bagian belakang ada tim khusus yang mengemudikan arah perahu, memastikan pergerakan mengikuti tujuan akhir (ke kampung atau air danau).

Makna Religi dan Spiritual Menurut penjelasan orang tua setempat, nyanyian ini bukan sekedar hiburan atau motivasi biasa, melainkan komunikasi supranatural dengan alam.

Liriknya mengandung elemen religi, di mana penyanyi seakan akan “berkomumikasih” memohon bantuan roh penjaga tempat

Tujuannya Meminta dukungan supranatural agar beban perahu yang berat menjadi ringan. Atau bisa juga di sebut Mengundang partisipasi alam, sehingga perahu bisa bergerak maju meski kondisi Medan sangat ekstrem.

Ini mencerminkan bahwa pandangan komunitas phuyaka atau masyarakat Sentani sejak dahulu antara  manusia, alam, dan roh saling berpartisipasi

Tradisi serupa ditemukan di suku-suku Papua lain, seperti Asmat atau Dani, di mana lagu adat sering kali bersifat sakral untuk mengatasi tantangan fisik.

Signifikasi Budaya dan PelestarianTradisi ini memperkuat ikatan sosial, di mana setiap anggota dari pemuda hingga orang tua berkontribusi.

Di era modern, tantangan seperti urbanisasi dan pengaruh luar mengancam kelestariannya, tapi komunitas seperti di Dondai masih mempertahankannya sebagai aset budaya yang hidup dalam aktifitas kerja-kerja gotong royong mereka. (ok)

PD. AMAN Jayapura Akan Dorong Organisasi Sayap Pemuda di Papua

Pengurus Daerah Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Jayapura-Papua berencana dorong  pembentukan Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN) di Papua, hal ini di sampaikan Ketua PD AMAN Jayapura Benhur Wally usai kegiatan Sosialisasi Panduan Pemgawasan Organisasi di Kampung Hobong 7/10/2025 lalu

Pengurus Daerah AMAN Jayapura dalam kerja-kerjanya serius memberikan  penguatan masyarakat adat di Papua,  Meskipun BPAN sudah ada secara nasional, rencana “pembentukan” di tingkat lokal Jayapura kemungkinan merujuk pada penguatan cabang dari regional atau rekrutmen anggota baru di Papua.

 Ini Adalah bagian dari upaya AMAN Jayapura untuk memperluas basis pemuda adat, hal ini  sejalan dengan resolusi Kongres Masyarakat Adat Nusantara (KMAN VI) dan program 2022-2027 yang menargetkan penguatan-penguatan di komunitas adat

 Barisan Pemuda Adat Nusantara BPAN merupakan organisasi sayap nasional AMAN yang dibentuk sejak lama,

 AMAN sendiri adalah organisasi kemasyarakatan independen yang bertujuan mewujudkan kehidupan adil dan sejahtera bagi masyarakat adat di seluruh Nusantara. Program kerjanya periode 2022-2027 menekankan penguatan basis masyarakat adat, termasuk melalui organisasi sayap untuk memperluas jangkauan advokasi hak-hak adat, seperti pengesahan UU Masyarakat Adat dan perlindungan komunitas adat

Kerja-kerja Organisasi Sayap AMAN, memperkuat  basis, secara resmi  AMAN sendiri telah membentuk  organisasi sayap utama, salah satunya adalah Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN).

 BPAN bersifat otonom dan fokus pada pemuda-pemudi adat berusia 15-30 tahun yang ada di 7 wilayah yaitu (Papua, Kepulauan Maluku, Bali-Nusra, Sulawesi, Jawa, Kalimantan, dan Sumatera)

Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) juga baru-baru ini  telah resmi mendeklarasikan Asosiasi Jurnalis Masyarakat Adat Nusantara (AJMAN) sebagai organisasi sayap baru dan sejajar dengan organisasi sayap yang sudah ada seperti Perempuan AMAN dan Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN).

Pembentukan Pemuda Adat Nusantara ini merupakan komitmen AMAN untuk membangun ekosistem perjuangan masyarakat adat yang lebih inklusif di basis-basi komunitas masyarakat adat itu  berada

Untuk Waktu pembentukannya akan disesuaikan dengan tahapan dan mekanisme internal Organisasi BPAN, dan kepesertaannya tentu akan mengacu  ke komunitas wilayah binaan AMAN yang sudah ada, tuturnya.(ok)

Kerja Sama UNIPA dan AMAN: Langkah Bersama Perkuat Gerakan Masyarakat Adat di Papua

Wakil Rektor IV Universitas Papua (UNIPA)  Manokwari  Dr. Yusuf Willem Sawaki, S.Pd., MA. sampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Pengurus Daerah PD. Aman Jayapura Papua yang telah datang ke Manokwari Jumat 10/10/2025 untuk menandatangani MOU dengan Universitas Papua.

Langkah ini dianggap sangat baik, Universitas Papua dengan bangga ingin bekerjasama dengan AMAN sebagai lembaga yang bekerja dalam perlindungan masyarakat adat.

Wakil Rektor IV UNIPA menjelaskan tiga pilar dalam pola ilmiah pokok UNIPA yaitu pertanian, konservasi, dan budaya. Pilar-pilar ini dimaksudkan untuk mendukung tanah Papua dan diyakini sangat berkaitan erat dengan masyarakat adat.

Penandatanganan MOU ini merupakan komitmen bersama UNIPA dan Aman Jayapura untuk bekerja sama mendukung masyarakat adat, mengawal aspirasi mereka, dan mengembangkan masyarakat adat agar diakui oleh semua pihak termasuk negara.

Keberadaan masyarakat adat dianggap penting untuk dikaji dan diberi kapasitas agar mereka bisa berdiri di atas kaki sendiri, didukung oleh pihak pemerintah, ujar Rektor.

Mantapkan Kerja Organisasi di daerah PB AMAN Lakukan Sosialisasi Panduan Pemgawasan dan Monev Organisasi di Papua

Pengurus Besar Aliansi Masyarakat Adat Nusantara yang selama ini aktif menyuarakan keberpihakan terhadap masyarakat adat di seluruh nusantara melakukan evaluasi internal organisasi, agar kerja-kerja untuk masyarakat adat lebi baik dan sesuai mekanisme pelaksanaan organisasi

Salah satu Anggota OKK PB. Aman Lasron Sinurat saat usai memberikan materi pada kegiatan pelatihan dan sosialisasi panduan pengawasan serta evaluasi Dewan Aman di kampung Hobong Jayapura Papua 7/10/2025 mengatakan, Kegiatan ini Tujuan utamanya adalah untuk memperkuat organisasi aman dan dewan-dewan aman untuk melakukan pengawasan serta evaluasi terhadap kinerja organisasi.

Panduan pengawasan dan evaluasi ini disusun berdasarkan usulan dari Dewan Aman Nasional, bekerja sama dengan Direktorat OKK. panduan ini disosialisasikan kepada seluruh dewan-dewan aman yang tersebar di 115 pengurus daerah dan 21 pengurus wilayah aman.

Dan saat ini di lakukan di kampung Hobong kabupaten Jayapura, awalnya terdapat 5 Dewan Aman Daerah, namun setelah Bu Dorince terpilih sebagai Dewan Aman Nasional, jumlah Dewan Aman Daerah Jayapura berkurang menjadi empat orang.

Nah kedepan nanti Keempat dewan Daerah ini akan bertugas sebagai pengawas dan evaluator kerja-kerja organisasi di daerah nanti, Organisasi AMAN di Jayapura memiliki banyak tugas pelayanan terhadap komunitas, terutama dengan adanya informasi bahwa 10 wilayah adat akan disahkan dan di beri SK oleh pemerintah,

dan Saat ini sementara Masi dalam proses persiapan, bagian ini juga sangat Penting bagi pengurus daerah aman Jayapura untuk terus memberikan pelayanan kepada komunitas, Contohnya dalam membangun ekonomi masyarakat adat di wilayah-wilayah yang telah diakui tersebut.

Hal yang lain Saat ini PD Aman Jayapura memiliki 13 komunitas masyarakat adat, Mengingat Papua juga adalah tanah adat, Maka AMAN perlu memperluas jangkauan dan mengkonsolidasikan lebih banyak komunitas masyarakat adat, Harapan kami PD Aman Jayapura dapat memperluas keanggotaan dan menjalankan mandat organisasi serta pelayanan secara berkelanjutan. Lanjutkan membaca “Mantapkan Kerja Organisasi di daerah PB AMAN Lakukan Sosialisasi Panduan Pemgawasan dan Monev Organisasi di Papua”

AMAN JAYAPURA BANGUN KEMITRAAN BERSAMA KEMENKUMHAM UNTUK PELATIHAN PARALEGAL

Pentingnya penguatan kelembagaan adat untuk jabatan tradisional seperti kepala suku atau kepala klen/marga dalam menjalankan fungsi advokasi dan penasehat dalam lingkupnya, memerlukan pemahaman dasar  untuk  kolaborasi hukum positif dan hukum adat di masyarakat adat, khususnya di komunitas-komunitas Adat di Tanah Papua, sehingga seringkali menyebabkan banyak kasus-kasus yang  tidak dapat diselesaikan di tingkat mereka

AMAN Jayapura merancang kegiatan pelatihan Fasilitator / paralegal khusus untuk kelembagaan adat. Tujuannya adalah melengkapi mereka dengan pemahaman hukum positif dan cara mengkolaborasikannya dengan hukum adat, agar mereka dapat menjadi garda terdepan dalam menyelesaikan masalah-masalah awal di komunitas.

Menindak lanjuti hal ini,  rabu 1/10/2025 Ketua PD AMAN Jayapura Benhur Yudha Wally. SE Bertandang ke kantor Kakanwil Kemenkumham Provinsi Papua, untuk membangun kemitraan antar lembaga, guna  mengawal Masyarakat adat di Papua untuk berdiri tegak lurus diatas hak-hak dasarnya

Tujuan AMAN Jayapura adalah   untuk memperoleh metode pengajaran yang efektif bagi fasilitator atau paralegal dengan dasar-dasar hukum positif yang bisa membekali fasilitator yang akan disiapkan di komunitas nanti

Kakanwil Hukum dan HAM Provinsi Papua Anthonius Mathius Ayorbaba, S.H., M.Si, menyambut baik inisiatif ini, pihaknya juga  menawarkan dukungan anggaran dan fasilitas kantor untuk kegiatan pelatihan paralegal nanti yang akan di dorong oleh AMAN.

Ketua PD AMAN Jayapura Benhur Wally saat di wawancarai mengatakan, Program ini bertujuan menciptakan ‘pagar’ di awal, memungkinkan penyelesaian masalah di lingkup masyarakat adat, yang berkaitan dengan tradisi, norma dan budaya  serta hak-hak komunal dan individu secara internal oleh paralegal atau pembela masyarakat adat (PPPMA) di tingkat komunitas sebelum masalah berlanjut ke kepolisian atau pengadilan.

Program ini juga bagian dari dukungan terhadap PENGACARA PEMBELA MASYARAKAT ADAT NUSANTARA ( PPMAN) )  yang akan berperan sebagai  organisasi sayap di bawa kontrol AMAN  untuk kerja-kerja pembelaan masyatakat adat di tingkat komunitas

Diskusi hangat yang berlangsung antara ketua AMAN dan Kakanwil Kemenkumham menyoroti pentingnya penguatan kelembagaan adat untuk fungsi advokasi, peneguran, dan nasihat, terutama karena kasus di Tanah Papua sering tidak terselesaikan di tingkat adat akibat kurangnya pemahaman hukum positif dan adat.

Rencana kegiatan akan diatur mekanismenya secara internal dan akan disampaikan kepada komunitas-komunitas Masyarakat adat untuk mengirim perwakilannya yang akan terlibat sebagai peserta nanti, Untuk waktu pelaksanaannya nanti, Akan disampaikan secara resmi ke komunitas sesuai prosedur kelembagaan. (ok)

BUMMA Phuyakoi Kantongi Ijin Pertambangan Rakyat Pertama di Tanah Papua

BUMMA Phuyakoi Puay-Yokiwa Kabupaten Jayapura papua Resmi Kantongi Ijin Pertambangan Rakyat untuk Masyarakat Adat Pertama di Tanah Papua
Badan Usaha Milik Masyarakat Adat Bhuyakoi Kampung Adat Yokiwa Distrik Sentani Timur Kabupaten Jayapura, satu-satunya Kampung Adat di Tanah Papua yang kini telah mengantongi Ijin Pertambangan Rakyat (IPR) untuk pengelongan pertambangan komunal Masyarakat adat di wilayah adat Kampung Yokiwa -Puay dari Dinas Enegi dan Sumberdaya Mineral (ESDM)Provinsi Papua. Lanjutkan membaca “BUMMA Phuyakoi Kantongi Ijin Pertambangan Rakyat Pertama di Tanah Papua”

Musik Bambu Tradisional Banyuwangi Meriahkan HIMAS 2025

Menjelang Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia (HIMAS) 9/8/2025 yang di gelar selama tiga hari  dengan berbagai kegiatan  sejak  tanggal 7-9 Agustus lalu di Kasepuhan Guradog Kecamatan Curugbitung, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, menghadirkan suasana yang berbeda dari sebelumnya

Kegiatan ini juga melibatkan desa – desa di kabupaten  dan kota se provinsi Banten turut hadir memeriahkan HIMAS 2025 membawa alat-alat musik tradisional serta hasil produk pengolahan UMKM  masyarakat adat.

Musik tradisional Angklung dari Banyuwangi, atau dikenal sebagai Angklung Caruk, adalah instrumen  musik khas yang dihasilkan menggunakan bambu. Angklung Caruk berbeda dari angklung pada lainnya,  karena memiliki ciri khas nada yang menyerupai musik khas Banyuwangi dan sering dikaitkan dengan keasliam mereka

Angklung Caruk adalah seni khas Banyuwangi yang berasal dari masyarakat Osing, perpaduan budaya Jawa dan Bali. Bentuknya mirip dengan calung dengan nada yang khas Banyuwangi, sering disebut juga sebagai Angklung Paglak.

Di Desa Guradog alat musik ini dipertontonkan saat malam pertunjukan langsung di panggung utama, suasana malam Hari masyarakat adat sedunia (HIMAS) di Guradog seakan-akan  menebar pesona pada malam.

Bunyi musik  bambu-bambu mengeluarkan suara yang sangat indah  malam itu, gemah musik ini menghadirkan suasana indah di pedesaan Kasepuhan Guradog.

 Aji Milano asal dari desa kemiren kota Banyuwangi provinsi Jawa Timur ( paling ujung) memainkannya dengan cara di pukul-pukul bambunya , Aji seornak anak yang di didik di sekolah adat osing desa kemiren Banyuwangi terlihat mahir menguasai teknik memainkan music bambu

Saat ditemui dengan gembira Aji menyampaikan bahwa, “saya sangat bersyukur dengan kegiatan HIMAS ini, Akhirnya  saya juga bisa tampil di acara begini, ini hal yang tidak pernah saya bayangkan, sukses terus masyarakat adat jaya selalu raih hak-hak adatnya” ujarnya.

Di kesempatan yang sama  Wiwin Indiarti Selaku Ketua Pengurus Harian Daerah AMAN Osing mengatakan bahwa Pola Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat Osing di Kabupaten Banyuwangi Propinsi Jawa Timur, masyarakat Osing menyebut tradisi saat panen itu sebagai upacara “ngampung”. Para petani yang mampu biasanya nanggap kesenian “angklung sawahan” atau istilah yang lebih populer angklung paglak.

“Kami berharap dengan adanya kegiatan seperti ini bisa dapat mengenalkan musik-musik tradisional Indonesia ke dunia luar dengan berbagai ciri khas masyarakat adat juga, kami yakin Masi banyak daerah yang memiliki seni musik ciri khas masing-masing yang belum di tampilkan seperti ini”, Ujar Wiwin. (Anagret Eluay)